Event

Budaya Kreatif Pameran Sensitivitas

_WGP5083x

Keinginan mencipta secara alami ada dalam diri kita. Namun, untuk mendorong kreativitas perlu dikembangkan mental yang mendukung karakter percaya diri, puas akan diri sendiri, penuh rasa ingin tahu, bisa memotivasi diri sendiri, serta fleksibel. Semua itu bisa dimulai dari rumah, dengan menanyakan: “Bagaimana kita memperlakukan seni di rumah? Bagaimana membangun budaya kreatif di rumah?”

 

Berangkat dari kerinduan mencairkan kebekuan antara seni dan manusia, guna mengingatkan seniman akan interaksi penuh makna dan cinta dengan kreativitas dalam hidup, proyek Pong Pong Balong di Dialogue Playground pun dirintis.

 

Di “Dialogue Playground,” kreativitas bukanlah untuk dikompetisikan.

 

Tak seperti pandangan umum bahwa seni dan kreativitas hanyalah milik mereka yang dilahirkan dengan bakat tersebut, peneliti pendidikan kreatif seperti Anna Craft serta Feldman dan Benjamin menyatakan semua orang berpotensi kreatif dan kreativitas bisa dikembangkan! Tak perlu pintar menggambar untuk menjadi kreatif maupun artistik.

 

Konferensi UNESCO mengenai Seni dan Pendidikan pada 2006 juga menekankan pentingnya pendidikan seni. Lantaran, memahami keberagaman budaya, memanipulasi secara positif lingkungan atau situasi serta berpikir inovatif adalah hasil dari pendidikan kreatif. Keterbukaan untuk berpikir independen dan berperilaku kreatif sangatlah penting keberadaannya dalam pendidikan seni, bahkan pengajar perlu menghindari bersikap otoriter dalam proses pendidikan.

 

Guna menyampaikan pesan-pesan tersebut, partisipan pameran ini pun diundang dari beragam latar belakang kreatif. Bersama anggota keluarga mereka, para seniman tersebut mengembangkan suatu proyek. Ada yang membuat seni visual, desain, arsitektur, bahkan ada pula yang secara aktif terlibat dalam aktivitas pengembangan kreativitas bersama anak-anak.

 

Lewat proses berkarya ini, banyak seniman beserta keluarganya merasakan kembali hangatnya keluarga dan serunya berkreasi. Salah satu peserta bahkan mengaku menangis terharu. “Terima kasih telah mengundang kami ikut dalam proyek ini. Ini membuatku sungguh-sungguh memikirkan kembali hubunganku dengan Bapak,” tuturnya.

 

Tak perlu pintar menggambar untuk menjadi kreatif maupun artistik.

 

Pada zaman ini, rasa khawatir dalam membesarkan anak meningkat. Kebebasan anak pun dikurangi. Mereka menjadi lebih terpaku pada gawai daripada bermain di luar rumah. Anak-anak pun kehilangan pengalaman sensoris yang sebenarnya bisa memperkuat imajinasi, interaksi, dan pemikiran mereka.

 

Untuk mengingatkan kembali pentingnya pengalaman tersebut, tema Pong Pong Balong pun diusung dalam pameran ini. Pong Pong Balong sendiri adalah permainan tradisional Betawi yang menggunakan sensitivitas, empati, kemampuan motorik halus, dan fokus. Para pemain hanya perlu tangan dan nyanyian untuk bermain.

 

Konsep ini diterapkan dalam pameran, yaitu para seniman diminta berinteraksi dengan kreativitas anak-anak lewat pendekatan yang santai. Keterlibatan kreatif ini diharapkan kelak menciptakan generasi yang mahir berpikir kreatif, memahami seni dan bahasa visual secara alami, serta mampu membangun konsep dengan tujuan tertentu.

 

oleh Jennifer Sidharta

 

Fotografer: Winson Suryadi