Event

Disen: Diskusi Dinamika Kerja Desain

IMG_0012

Berawal dari kegelisahan yang sama, Bernaz, bersama dengan Surianto Rustan, membangun sebuah komunitas yang mereka namai ‘Disen’. Bernaz memandang bahwa perlu adanya kesetaraan antara desainer sebagai problem solver dengan klien sebagai problem maker.

“Desain bukan komoditi. Mereka tidak dibuat di pabrik. Seperti barang, itu komoditi. Desain itu spesifik. Desain harus mampu menemukan solusi dari masalah seseorang. Jadi nggak bisa solusi itu untuk banyak orang,” ujar Bernaz, co-founder Disen, Sabtu (26/3) pada diskusi Disen edisi ‘Typography’ di De Laris Resto, Jakarta.

Menurutnya, sejumlah negara memiliki asosiasi yang mengatur serta menjadi wadah bagi para pelaku desain. Indonesia menjadi salah satu negara tersebut. Namun, asosiasi bagi pekerja desain di Indonesia kurang mampu mewadahi kegiatan desain serta karya-karya yang dihasilkan.

“Di setiap negara itu ada asosiasi desain. Salah satunya seperti Australia. Indonesia juga ada, tapi tidak begitu bekerja dengan baik,” ungkap Bernaz.

Disen dibentuk oleh Surianto Rustan dan Bernaz untuk menjadi wadah bagi para pelaku desain, salah satunya mahasiswa desain untuk berkumpul dan belajar bersama. Tak melulu bicara mengenai materi, tapi juga mendiskusikan karya-karya mereka.

Dalam diskusi Disen ke enam Sabtu lalu, topik yang diangkat mengenai Typography. Diskusi turut mengundang seorang master typography, Andy AW Masry, untuk berbagi ilmu serta pengetahuan terkait typography.

Terdapat tiga hal yang dibahas dalam diskusi tersebut, salah satunya mengetahui apa yang membedakan serta kesamaan dari lettering, typography, serta type design. Tak hanya itu, di salah satu bagian akhir presentasi, Andy AW Masry juga turut mempertanyakan type design sebagai sebuah profesi sampingan.

Editor: Areta Selena

Fotografer: Tresna Krisnadi