Event

Pesan di dalam Pesan

DSC_0025

Timur Tengah dan Tiongkok bertemu, dalam bingkai hitam persegi 120 cm. Dalam lukisan-lukisan karya pionir seni abstrak Barat dan kaligrafi Islam di Indonesia, A. D. Pirous.

“Kalimat disusun menjadi pikiran. Saya pakai huruf sebagai simbol yang sangat ampuh untuk menguntaikan pikiran saya,” urai Pirous kepada Antara. Kaligrafi, tipografi, dan warna pun dimanfaatkan pria asal Aceh ini untuk menyampaikan pesannya soal ide-ide religious, sosial, hingga politik.

Tidak pada semua kaligrafi lelaki yang tahun ini berusia 84 tahun tersebut menggunakan huruf Arab eklektik. Sejak 1980an, mantan dosen ITB (Institut Teknologi Bandung) itu memanfaatkan bahasa dan bentuk lain agar dapat mengomunikasikan pemikirannya kepada publik yang lebih luas.

Bagi sang profesor, melukis bukan sekedar menuangkan pemikiran lewat goresan di medium, melainkan interaksi antara ia dengan karya. Sengaja dibuatnya 10 hingga 15 lukisan yang belum selesai dan menunggu karya mana yang “memanggilnya” kala ia masuk bengkel kerja.

Jika ingin membeli lukisannya, Pirous harus yakin bahwa lukisan itu berharga bagi calon pemiliknya dan bukan dipindahtangankan guna dibanggakan pada orang lain saja. Lantaran, 19 tahun silam ia dikecewakan seorang kolektor yang membeli lukisannya untuk kemudian disimpan di gudang.

Sementara, di kesempatan lain, seorang calon pembeli memegang lukisannya agar tidak dibeli pengunjung lain gerainya di suatu pasar seni. Ternyata, orang yang merupakan tukang sablon tersebut hanya memiliki sedikit uang.

Pirous pun menawarkan, jika sampai siang tidak ada yang membeli lukisan itu, ia akan menjualnya kepadanya. Hingga sore sang tukang sablon menunggu demi mendapatkan lukisan tersebut. “Lukisan itu yang memberi saya rasa bahagia. Saya tahu, dia betul-betul menginginkan lukisan saya.”

 

Percakapan Aksara dan Warna

Abstraksi simbol dalam rupa warna dan aksara dipadupadankan sang seniman kaligrafi spiritual melalui guratan ayat-ayat Al-Quran, aksara Mandarin dalam aksara Arab, aksara Arab dalam kanji Tiongkok, tulisan Bahasa Indonesia dengan ragam ukuran dan tingkat transparansi, hingga kata-kata berbahasa Inggris dengan Indonesia.

Sebagian tulisan dibuat Pirous timbul, sebagian melesak lebih dalam dari permukaan lukisan, sebagian simbol digurat mencolok, sebagian disapukan memburam. Dalam beberapa karyanya, ahli seni yang terpanggil menekuni kaligrafi Islam tatkala mengunjungi pameran kaligrafi Timur Tengah di The Metropolitan Museum of Art, New York, ini menampilkan campuran warna-warni, sementara sejumlah karyanya yang lain menekankan dominasi satu warna.

13 karya Abdul Djalil Pirous periode 1970an hingga 2000an kini dipamerkan bagi publik dalam ekshibisi bertajuk “Spiritual Calligraphy” di lobi WTC (World Trade Center) 2, Jakarta, pada 1 Maret hingga 1 April 2016.

Jurnalis: Jennifer Sidharta

Editor: Areta Selena

Fotografer: Ovita Pattari